BIOFUEL DIPERCEPAT, FOOD ESTATE DIGENJOT. TAPI KALAU EKOLOGINYA RUNTUH, PERUSAHAAN JUGA YANG KENA IMBAS
Indonesia sedang mengejar dua target besar sekaligus: energi dan pangan. Masalahnya, kalau jalannya tidak hati-hati, yang muncul bukan ketahanan, tetapi risiko baru.
Biayanya MAHAL
Studi Celios yang dikutip Kompas.id memperkirakan total biaya biofuel dan food estate bisa mencapai 11 miliar dollar AS dalam 10 tahun. Sekitar 8 miliar dollar AS dialokasikan untuk food estate di Merauke, dan 1,7 miliar dollar AS untuk rantai pasok seperti penyimpanan, transportasi, dan distribusi. Bahkan, anggaran proyek biodiesel pada 2026 disebut bisa setara 89 persen dari total subsidi energi tahun itu.
ENERGI vs PANGAN
Masalah berikutnya ada di bahan baku. Biodiesel berbasis sawit bisa menekan pasokan minyak goreng. Bioetanol berbasis tebu juga memunculkan paradoks, karena Indonesia masih mengimpor 5-6 juta ton gula per tahun.
Jadi, saat lahan diarahkan ke energi, kebutuhan pangan justru bisa ikut tertekan.
Tekanan Ekologi Sudah Terlihat
Risikonya bukan cuma di anggaran. Dalam laporan Kompas.id Deforestasi di Merauke pada 2025 disebut sudah mencapai 9.000 hektar. Greenpeace juga menyoroti proyek tebu Merauke seluas 560.000 hektar, termasuk 419.000 hektar hutan alam, 83.000 hektar lahan basah, dan 34.000 hektar sabana. Kalau ekspansi seperti ini terus dipaksakan, dampaknya bisa langsung kena ke air, karbon, dan ketahanan pangan jangka panjang.
Risiko Reputasi Ikut Naik
Masalah ini bisa meluas ke pasar global. Komoditas impor ke Uni Eropa diaudit untuk memastikan tidak terkait deforestasi. Indonesia saat ini berada di kategori risiko menengah, dengan sekitar 3 persen komoditas tertentu bisa diperiksa. Jika naik ke kategori risiko tinggi, porsinya bisa jadi 9 persen. Dampaknya jelas: proses dagang makin berat, administrasi bertambah, dan daya saing bisa turun.
Ini BUKAN CUMA Isu Lingkungan
Bagi perusahaan, isu ini sudah masuk ke ranah bisnis.
Jadi, sustainability tidak bisa lagi diperlakukan sebagai pelengkap presentasi. Perusahaan perlu tahu apa dampaknya ke operasional, ke buyer, dan ke posisi bisnis mereka ke depan.
Di titik ini MBO Sustainability Sangat Relevan
Perusahaan butuh lebih dari sekadar opini. Mereka butuh sistem yang bisa membantu membaca risiko, menata governance, menghitung dampak, dan menyiapkan reporting yang lebih kuat. MBO Sustainability adalah konsultan sustainability (ISO & ESG Framework) yang membantu perusahaan membangun sustainability governance, climate risk management, dan sustainability reporting agar keputusan bisnis tidak diambil dari data yang lemah.
Kalau perusahaan Anda mulai menghadapi tekanan ESG, risiko iklim, atau tuntutan rantai pasok yang lebih ketat, sekarang saatnya berbenah. MBO Sustainability siap membantu perusahaan Anda menata sistem keberlanjutan dengan lebih terstruktur, terukur, dan siap menghadapi tuntutan pasar.
KLIK LINK BERIKUT UNTUK KONSULTASI GRATIS