CBAM SUDAH JALAN DI 2026. MASALAHNYA, BANYAK PERUSAHAAN MASIH BELUM SIAP
Ini kelihatannya seperti urusan Eropa, sampai buyer mulai tanya soal emisi
Sebagian besar perusahaan di Indonesia masih melihat CBAM sebagai aturan yang jauh. Karena yang membuat aturan itu Uni Eropa, kesannya seperti ini urusan mereka, bukan urusan kita. Tapi biasanya persepsi itu berubah cepat begitu buyer mulai datang dengan pertanyaan yang lebih spesifik:
- Berapa emisi dari produk ini
- Apakah bisa diverifikasi.
Secara Aturan yang Kena IMPORTIR, tapi Dampaknya Jatuh ke SUPPLIER
Memang, secara formal yang diwajibkan melapor adalah importir di Eropa. Tapi dalam praktiknya, importir tidak mungkin bisa menjawab kewajiban itu sendirian. Mereka tetap bergantung pada data dari pabrik, eksportir, dan supplier di negara asal. Jadi walaupun nama perusahaan Anda tidak tertulis langsung di regulasi, posisi Anda tetap sangat menentukan.Masalahnya, banyak supplier di luar UE belum terbiasa menyiapkan data emisi di level produk. Ada yang baru punya angka rata-rata pabrik. Ada yang datanya masih tercecer di banyak file. Ada juga yang sebenarnya sudah punya niat berbenah, tapi belum punya sistem yang cukup rapi untuk membuat semua informasi itu bisa dipakai secara konsisten. Akibatnya, ketika buyer meminta data, responsnya jadi lambat. Dan di pasar seperti sekarang, respons yang lambat sering kali dibaca sebagai tanda bahwa sistem bisnis perusahaan belum siap. Jadi Persoalannya Bukan cuma KARBONIni yang sering tidak disadari dari awal. Banyak orang mengira CBAM itu cuma soal menghitung emisi. Padahal yang lebih berat justru ada di belakang angka itu.
- Bagaimana data dikumpulkan, siapa yang bertanggung jawab
- Bagaimana supplier dilibatkan
- Bagaimana semua itu disimpan agar bisa dipakai lagi tanpa mulai dari nol setiap kali ada permintaan baru
Oleh karena itu, perusahaan yang terlihat santai di awal biasanya justru panik di tengah jalan. Bukan karena mereka tidak peduli, tetapi karena ternyata data yang dibutuhkan tidak sesederhana yang dibayangkan. Ketika satu buyer meminta detail, tim procurement harus mengejar supplier. Tim sustainability sibuk mencari metode. Tim compliance mulai memikirkan kelengkapan dokumen. Tim finance mulai bertanya apa dampaknya terhadap biaya. Akhirnya semua bergerak, tapi tidak dalam satu sistem yang sama.
Kalau Datanya Gak Siap, yang Naik Bukan cuma Beban Kerja, tapi juga RISIKONYA
Dalam materi CBAM itu juga dijelaskan bahwa ketika data aktual dari supplier tidak tersedia, perusahaan bisa terpaksa memakai default values. Masalahnya, default values ini cenderung lebih tinggi dan pada akhirnya bisa membuat beban biaya ikut naik. Jadi, isu ini bukan sekadar soal administrasi. Ini juga soal efisiensi dan daya saing.Dan di sinilah banyak perusahaan mulai melihat bahwa CBAM bukan cuma urusan kepatuhan. Tetapi, bisa memengaruhi hubungan dagang, posisi tawar, sampai persepsi buyer terhadap keseriusan perusahaan dalam mengelola emisi. Ketika pasar mulai menuntut transparansi, perusahaan yang datanya rapi akan terlihat jauh lebih siap. Sementara yang masih bergerak reaktif akan terus tertinggal satu langkah.
Yang Dibutuhkan Bukan Jawaban Sesaat, tapi Fondasi yang Bisa Dipakai TERUS MENERUS
Karena itu, pendekatan jangka pendek biasanya tidak cukup. Perusahaan tidak cukup hanya menyiapkan jawaban untuk satu buyer atau satu permintaan data. Yang dibutuhkan adalah fondasi yang bisa dipakai berulang:
- Inventarisasi emisi yang jelas
- Alur pelaporan yang konsisten
- Koordinasi internal yang tidak saling terputus
Di sinilah peran MBO Sustainability menjadi relevan. Bukan sekadar membantu perusahaan “menjawab pertanyaan buyer”, tetapi membantu menata fondasi yang membuat perusahaan lebih siap menghadapi tekanan pasar secara berkelanjutan. MBO Sustainability bantu melayani Sustainability Governance, Sustainability Risk & Climate Management, serta Sustainability Reporting & Capacity Building. Itu berarti perusahaan bisa dibantu bukan hanya di level narasi, tetapi juga di level sistem, data, risiko, dan penguatan kapasitas tim.
Saatnya Berbenah Sebelum Pasar Memaksa Anda Berlari
CBAM sudah berjalan. Tekanannya bukan lagi nanti, tapi sekarang mulai terasa di supply chain. Dan biasanya, perusahaan yang paling aman bukan yang paling cepat bereaksi saat diminta data, tetapi yang paling cepat membangun sistem sebelum tekanan itu datang lebih besar.Kalau perusahaan Anda ingin mulai merapikan GHG inventory, membangun climate risk management, memperkuat ESG governance, atau menata sustainability reporting agar lebih siap menghadapi tuntutan pasar, MBO Sustainability yang sudah berpengalaman lebih dari 5 tahun bisa menjadi partner yang tepat untuk memulainya. Karena di era seperti sekarang, yang membuat bisnis tetap dipercaya bukan sekadar niat untuk berubah, tetapi kesiapan untuk membuktikannya.
Klik link berikut untuk konsultasi gratis