Dampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) bukan hanya asap yang mengganggu kesehatan dan aktivitas masyarakat. Ketika vegetasi, serasah, dan material organik termasuk gambut terbakar, karbon yang tersimpan dapat dilepaskan ke atmosfer dalam bentuk gas rumah kaca (GRK). Emisi tersebut menambah tantangan dalam upaya menekan pemanasan global.
Pada September 2026, pemantauan yang dikutip sejumlah media dari Copernicus Atmosphere Monitoring Service (CAMS) menunjukkan lonjakan emisi kebakaran di Indonesia. Angka yang diberitakan untuk periode 1-7 September mencapai 19,7 juta ton, sekitar 273% di atas rata-rata musiman dan menyumbang lebih dari sepertiga emisi kebakaran global pada periode tersebut. Namun, angka dan satuan yang digunakan dalam pemberitaan perlu dibaca dengan cermat: sejumlah sumber membedakan antara massa karbon dan massa karbon dioksida (CO₂). Sebelum publikasi, pastikan angka, satuan, rentang waktu, dan metodologi dikonfirmasi pada sumber primer CAMS.
Bagi perusahaan, kabar ini menjadi pengingat bahwa target net zero tidak cukup berhenti sebagai komitmen. Perusahaan perlu mengetahui dari mana emisinya berasal, sumber mana yang paling signifikan, dan apakah upaya pengurangan yang dijalankan benar-benar menghasilkan perubahan yang terukur.
Emisi Karhutla dan Dampaknya terhadap Perubahan Iklim
Kebakaran vegetasi melepaskan karbon yang sebelumnya tersimpan dalam biomassa dan material organik. Pada lahan gambut, dampaknya dapat lebih kompleks karena api bisa membakar lapisan organik di bawah permukaan tanah, sehingga kebakaran sulit dipadamkan dan emisi dapat berlangsung lebih lama. Karhutla juga dapat merusak ekosistem yang berperan menyerap karbon, sehingga kapasitas penyerapan pada masa depan berpotensi ikut menurun.
Karena itu, emisi karhutla tidak hanya relevan sebagai isu kualitas udara atau bencana lokal. Peristiwa ini juga berkaitan dengan neraca karbon dan upaya mitigasi perubahan iklim. Meski begitu, data emisi kebakaran yang dipantau secara atmosferik merupakan estimasi pada skala wilayah atau negara; angka tersebut tidak otomatis menjadi emisi yang harus dilaporkan oleh setiap perusahaan.
Mengapa Isu Ini Relevan bagi Target Iklim Indonesia?
Upaya mencapai target iklim membutuhkan pengurangan emisi dari berbagai sektor sekaligus perlindungan dan pemulihan penyerap karbon. Ketika kebakaran hutan dan lahan melepaskan emisi dalam jumlah besar, tantangan pengendalian emisi nasional menjadi semakin berat. Hal ini juga menegaskan pentingnya pengelolaan lahan, pencegahan kebakaran, pemantauan titik panas, serta penegakan tata kelola yang efektif.
Dalam konteks perusahaan, pesan utamanya bukan bahwa seluruh perusahaan otomatis bertanggung jawab atas emisi karhutla nasional. Relevansinya bergantung pada aktivitas, kepemilikan atau pengendalian lahan, hubungan bisnis, serta rantai pasok masing-masing. Perusahaan yang beroperasi atau memperoleh bahan baku dari sektor dan wilayah yang terkait dengan perubahan penggunaan lahan perlu menilai risiko tersebut secara lebih spesifik.
Apa Hubungan Karhutla dengan Target Net Zero Perusahaan?
Target net zero perusahaan berfokus pada pengurangan emisi yang relevan dengan batas organisasi dan rantai nilainya, sesuai metodologi yang digunakan. Karena itu, emisi dari kebakaran di suatu wilayah tidak boleh langsung ditambahkan ke inventaris perusahaan tanpa dasar akuntansi dan batas pelaporan yang jelas.
Meski tidak selalu masuk langsung ke inventaris, isu karhutla dapat menjadi risiko bisnis dan iklim. Contohnya meliputi gangguan pasokan bahan baku, gangguan operasional akibat asap, risiko reputasi, serta risiko terkait penggunaan lahan atau pemasok. Perusahaan perlu memahami konteks tersebut sambil tetap menghitung emisi operasional dan rantai nilainya secara konsisten.
Dalam inventarisasi GRK, perusahaan umumnya menilai tiga kelompok emisi: Scope 1 dari sumber yang dimiliki atau dikendalikan, seperti pembakaran bahan bakar; Scope 2 dari energi yang dibeli, seperti listrik; dan Scope 3 dari aktivitas lain dalam rantai nilai, seperti transportasi, pembelian barang dan jasa, serta pengelolaan limbah. Kategori dan batas yang digunakan harus mengikuti standar atau kerangka pelaporan yang dipilih.
Punya Target Net Zero Belum Berarti Emisi Sudah Terkendali
Komitmen net zero merupakan titik awal, bukan bukti bahwa emisi sudah turun. Tanpa data dasar (baseline) yang dapat ditelusuri, perusahaan akan kesulitan menentukan prioritas, membandingkan kinerja dari tahun ke tahun, dan menilai apakah program pengurangan berjalan efektif.
Inventarisasi yang baik membantu perusahaan menjawab beberapa pertanyaan mendasar: sumber emisi apa yang paling besar; data aktivitas apa yang tersedia; asumsi dan faktor emisi apa yang digunakan; bagian mana yang dapat dikendalikan langsung; serta tindakan apa yang paling masuk akal dari sisi dampak, biaya, dan kelayakan operasional.
3 Langkah Perusahaan untuk Mengelola Emisi GRK
1. Hitung emisi: identifikasi sumber dan susun inventarisasi GRK
Mulailah dengan memetakan batas organisasi dan sumber emisi yang relevan. Kumpulkan data aktivitas, misalnya konsumsi listrik, penggunaan bahan bakar, perjalanan dinas, transportasi, proses produksi, pembelian material, dan pengelolaan limbah. Data tersebut kemudian dihitung menggunakan faktor emisi yang sesuai dan terdokumentasi.
Hasil inventarisasi menjadi baseline untuk melihat besaran emisi dan menyediakan dasar yang konsisten bagi pengambilan keputusan. Standar seperti ISO 14064-1 dapat digunakan sebagai acuan untuk mengkuantifikasi dan melaporkan emisi serta serapan GRK pada tingkat organisasi.
2. Tentukan prioritas: fokus pada sumber signifikan dan peluang realistis
Tidak semua sumber emisi memiliki besaran atau peluang pengurangan yang sama. Setelah inventarisasi, perusahaan dapat memprioritaskan sumber berdasarkan kontribusinya terhadap total emisi, potensi penurunan, biaya, kesiapan teknologi, serta kendali yang dimiliki perusahaan.
Sebagai contoh, jika penggunaan listrik dan bahan bakar menjadi sumber dominan di sebuah fasilitas manufaktur, perusahaan dapat mengevaluasi efisiensi energi, perbaikan proses, elektrifikasi yang layak, atau penggunaan energi terbarukan. Jika emisi rantai pasok lebih signifikan, langkah awal mungkin berupa peningkatan kualitas data pemasok, optimasi logistik, atau pengadaan dengan kriteria lingkungan yang jelas. Prioritas harus didasarkan pada data perusahaan sendiri, bukan asumsi umum.
3. Pantau progres: ukur perubahan dan evaluasi efektivitas
Tetapkan indikator, frekuensi pemantauan, penanggung jawab, dan mekanisme evaluasi. Bandingkan emisi dengan baseline secara berkala, sambil memperhatikan perubahan volume produksi, aktivitas, batas organisasi, dan metode perhitungan. Jika kondisi operasional berubah, jelaskan perubahan tersebut agar perbandingan tetap bermakna.
Pemantauan membantu perusahaan mengetahui apakah tindakan yang dipilih memberikan hasil. Jika penurunan belum sesuai rencana, perusahaan dapat meninjau ulang data, asumsi, dan implementasi program kemudian memperbaiki strategi berdasarkan bukti.
Contoh Penerapan pada Perusahaan Manufaktur
Tabel berikut merupakan ilustrasi sederhana. Sumber emisi yang sebenarnya signifikan akan berbeda menurut jenis industri, proses, dan rantai pasok.
| | |
| Kumpulkan data listrik, bahan bakar boiler/kendaraan, dan sumber rantai pasok yang relevan
| Inventarisasi dan baseline emisi yang terdokumentasi |
| Bandingkan kontribusi sumber emisi dan nilai opsi efisiensi energi atau optimasi proses
| Daftar tindakan prioritas berdasarkan dampak dan kelayakan |
| Tinjau konsumsi energi dan emisi secara berkala; bandingkan dengan baseline dan aktivitas produksi | Bukti perubahan kinerja dan masukan untuk perbaikan berikutnya. |
Checklist: Apakah Pengelolaan Emisi GRK Perusahaan Anda Sudah Siap?
- [ ] Batas organisasi dan aktivitas yang masuk dalam inventarisasi sudah ditetapkan.
- [ ] Sumber emisi Scope 1, Scope 2, dan kategori Scope 3 yang relevan sudah diidentifikasi.
- [ ] Data aktivitas, sumber data, faktor emisi, asumsi, dan metode perhitungan terdokumentasi.
- [ ] Baseline emisi tersedia dan dapat digunakan untuk perbandingan antarperiode.
- [ ] Sumber emisi signifikan dan peluang pengurangan telah diprioritaskan.
- [ ] Setiap program memiliki indikator, penanggung jawab, jadwal, dan cara evaluasi.
- [ ] Perubahan batas, metode, atau aktivitas yang memengaruhi perbandingan telah dijelaskan.
Peran Inventarisasi GRK dalam Strategi Dekarbonisasi
Inventarisasi GRK menyediakan dasar kuantitatif untuk menyusun strategi dekarbonisasi yang masuk akal dan dapat dievaluasi. Data yang baik membantu perusahaan menghindari program yang hanya terlihat baik di atas kertas, tetapi tidak menyasar sumber emisi yang paling penting. Bagi perusahaan yang membutuhkan pendekatan sistematis, ISO 14064-1 dapat menjadi salah satu acuan dalam penghitungan dan pelaporan emisi organisasi. Penerapannya tetap perlu disesuaikan dengan konteks perusahaan, ketersediaan data, tujuan pelaporan, dan kebutuhan pemangku kepentingan.
Kesimpulan
Lonjakan emisi karhutla memperlihatkan betapa besar tantangan pengendalian GRK ketika kebakaran hutan dan lahan terjadi. Bagi perusahaan, respons yang relevan bukan sekadar menyematkan istilah net zero dalam strategi, melainkan memahami emisi yang terkait dengan aktivitas dan rantai nilainya sendiri.
Langkah praktisnya dimulai dengan menghitung emisi, menentukan prioritas pengurangan, lalu memantau progres secara berkala. Dengan inventarisasi yang transparan dan strategi yang berbasis data, perusahaan memiliki landasan yang lebih kuat untuk mengambil keputusan dan mengevaluasi hasilnya.
Ingin menyusun inventarisasi emisi GRK yang lebih sistematis? MBO Sustain dapat menjadi mitra diskusi untuk memahami kebutuhan pengelolaan emisi organisasi, termasuk pendekatan yang mengacu pada ISO 14064-1. Sesuaikan ajakan ini dengan halaman layanan dan tautan internal yang tersedia di situs sebelum artikel dipublikasikan.