Dalam beberapa tahun terakhir, perusahaan di seluruh dunia, termasuk Indonesia berlomba-lomba mengejar skor ESG (Environmental, Social, and Governance) yang tinggi. Bagi kebanyakan perusahaan skor tersebut dianggap sebagai “tameng” yang membuktikan komitmen mereka terhadap keberlanjutan (sustainability). Namun, tren terbaru menunjukan paradoks yang cukup mengejutkan bagi para pengambil keputusan. Skor ESG yang tinggi tidak lagi menjadi sebuah jaminan keamanan dari sorotan audit. Malah sebaliknya, hal tersebut menjadi magnet bagi pengawasan yang lebih ketat.
Paradoks Audit: Skor Tinggi dan Key Audit Matters (KAM)
Sebuah riset yang dimuat pada laman Universita Airlangga (UNAIR) dengan tajuk “Skor ESG Tinggi, Tapi Auditor Justru Lebih Waspada: Apa yang Terjadi?” observasi terhadap 1.954 perusahaan di Asia Tenggara (Malaysia, Singapura, dan Thailand) periode 2016 - 2022 mengungkapkan fakta krusial. Skor ESG secara konsisten justru diikuti oleh peningkatan dan kompleksitas Key Audit Matters (KAM).Merujuk pada standar ISA 701, KAM didefinisikan sebagai hal-hal yang menurut pertimbangan profesional auditor paling signifikan dalam audit laporan keuangan. Penting untuk dipahami bahwa KAM bukanlah daftar kesalahan atau indikasi kecurangan, melainkan peta perhatian auditor. Munculnya isu ESG dalam KAM menandakan bahwa area tersebut memiliki risiko tinggi yang memerlukan transparansi laporan audit. Auditor, kini menjadi lebih waspada terhadap angka-angka indah yang tidak memiliki substansi data yang kuat.
Alasan Mengapa ESG Menambah Kompleksitas Audit
Audit ESG lebih rumit dibandingkan audit konvensional. Hal ini dikarenakan laporan keberlanjutan melibatkan estimasi dan penilaian (judgment) yang sangat tinggi. Beberapa faktor yang membuat kompleksitas ini meningkat antara lain:
- Valuasi Karbon: Menghitung emisi dan nilai ekonomi jejak karbon melibatkan parameter yang dinamis dan teknis.
- Provisi Lingkungan: Estimasi biaya pemulihan dampak lingkungan di masa akan datang bersifat sangat subjektif.
- Risiko Greenwashing: Adanya kesenjangan antara klaim publik dengan bukti data fisik memperbesar verifikasi.
Ketidakjelasan dalam pengungkapan ESG sering kali mengarah pada “biaya audit abnormal”. Auditor terpaksa memperluas prosedur verifikasi untuk menutupi ambiguitas data, yang pada akhirnya biaya audit semakin membengkak di perusahaan. Fenomena ini sering kali dipicu oleh Executive Myopia (miopia manajemen), di mana pimpinan hanya fokus pada pencapaian skor jangka pendek tanpa membangun infrastruktur data reliable.
Tuntutan Investor: Verifikasi adalah Mata Uang Utama
Bukan hanya auditor yang semakin skeptis, investor global pun menuntut hal yang sama. Berdasarkan PwC Global Investor Survey, terdapat pergeseran besar dalam cara pasar memandang data keberlanjutan:
- 79% Investor menyatakan bahwa cara perusahaan mengelola risiko dan peluang ESG adalah faktor penentu dalam keputusan investasi.
- 79% Investor lebih menaruh kepercayaan pada informasi ESG yang telah melalui proses assurance (penjaminan).
- 75% Investor menganggap penting bahwa metrik ESG diverifikasi secara independen oleh pihak ketiga.
Bagi investor, narasi indah tanpa verifikasi independen hanyalah risiko tersembunyi. Mereka membutuhkan data yang reliabel untuk memitigasi risiko investasi jangka panjang.
Adopsi ISSB dan Langkah Indonesia 2027
Dalam rangka akselerasi ke standar global maka Indonesia membuat langkah dengan mengadopsi International Sustainability Standards Board (ISSB). Saat ini, 37 yurisdiksi yang mencakup sekitar 60% PDB global telah mengambil langkah menuju standar ini, dan Indonesia secara eksplisit masuk dalam daftar tersebut.Di tingkat lokal, Ikatan Akuntan Indonesia (IAI) melalui Dewan Standar Keberlanjutan (DSK) telah mengesahkan Standar Pelaporan Keberlanjutan (PSPK 1 & PSPK 2) pada 1 Juli 2025. Standar ini merupakan adopsi penuh dari IFRS S1 dan S2.
- Efektif 1 Januari 2027: Indonesia resmi menjadi bagian dari yurisdiksi yang mengimplementasikan kerangka pelaporan keberlanjutan global secara wajib.
- Dampaknya: Laporan keberlanjutan tidak lagi dikelola secara terpisah oleh tim CSR, melainkan harus menyatu dengan pelaporan keuangan, menuntut kualitas data yang setara dengan data akuntansi akurat, dapat diperbandingkan, dan dapat diaudit.
Tantangan Besar di Masa Mendatang
Meskipun batas waktu 2027 semakin dekat, kesiapan perusahaan masih sangat minim. Riset dari KPMG mengungkapkan kesenjangan digital yang mengkhawatirkan:
- Kurang dari 30% perusahaan besar yang disurvei berada pada tahap kesiapan lanjut untuk menghadapi assurance ESG.
- 84% Perusahaan Pemula masih mengandalkan spreadsheet manual untuk pelaporan ESG mereka dimana hal tersebut kurang relevan lagi.
- Sebagai perbandingan, 98% Perusahaan Pemimpin sudah menggunakan sistem pelaporan yang terintegrasi.
Ketergantungan pada spreadsheet manual adalah risiko audit terbesar. Tanpa governance dan internal control yang kuat, data manual sangat rawan terhadap kesalahan manusia dan sulit dilacak (lack of traceability). Menuju 2027, perusahaan tidak hanya butuh laporan naratif, tetapi butuh data yang reliabel dan sistem yang siap diaudit.
Bangun Kredibilitas Bersama MBO Sustain
Skor ESG yang tinggi adalah sebuah pencapaian, namun menjaga kredibilitas di balik skor tersebut adalah sebuah tantangan strategis. Pergeseran menuju standar ISSB dan PSPK menuntut perusahaan untuk lebih dari sekadar "terlihat baik", tetapi harus "terbukti benar".
MBO Sustain hadir sebagai mitra strategis untuk membantu perusahaan Anda menavigasi kompleksitas pelaporan keberlanjutan global. Kami memahami bahwa transisi dari pelaporan manual ke sistem yang siap audit (assurance-ready) memerlukan keahlian mendalam dan metodologi yang tepat.Layanan yang kami berikan mencakup: - Gap Analysis & Roadmap Kesiapan ISSB (IFRS S1 & S2).
- Penyusunan Laporan Keberlanjutan (Sustainability Report) sesuai PSPK 1 & 2.
- ESG Data Governance & Internal Control untuk mitigasi risiko Greenwashing.
- Persiapan ESG Assurance untuk meningkatkan kepercayaan investor dan efisiensi biaya audit.
Jangan biarkan perusahaan Anda terjebak dalam risiko audit dan biaya operasional yang tidak perlu akibat ketidaksiapan data. Wujudkan tata kelola keberlanjutan yang transparan, reliabel, dan terpercaya bersama MBO Sustain. Untuk layanan kami dan informasi selengkapnya bisa klik link berikut ini Sustainability Governance (ISO & ESG Framework).